Lukisan itu Bernama Danau Lut Tawar

Lukisan itu Bernama Danau Lut Tawar

Yay, akhirnya punya web-blog sendiri!! Sebenarnya beberapa pengalaman sudah saya tulis di akun facebook saya, cuman karena beberapa pertimbangan, salah satunya cerita tersebut akan lenyap kebawah tertutup postingan-postingan alay saya, maka pengalaman-pengalaman tersebut akan saya tuangkan saja dalam blog ini ^_^

Nah, kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman saya dan keluarga ketika berjalan-jalan ke Takengon, Aceh Tengah. Sebenarnya ini udah latepost banget ya, tahun 2015 alias dua tahun yang lalu. Dua tahun yang lalu berarti anak pertama saya berusia 3,5 tahun dan anak kedua saya berusia sekitar sepuluh bulan. Saat itu, kami sekeluarga masih menetap di Rantau, Aceh Tamiang. Sebuah kabupaten pemekaran dari Aceh Timur yang dapat ditempuh selama tiga sampau empat jam perjalanan darat dari Medan (engenai Aceh Tamiang nanti akan saya cerita pada bagian yang lain). Menarik sekali melihat keberagaman etnis yang ada di Aceh Tamiang ini.

Danau Lut Tawar diambil balkon kamar Hotel Renggali

Kembali soal perjalanan ke Takengon, Aceh Tengah. Perjalanan dari rumah (Aceh Tamiang) ke Takengon memakan waktu kurang lebih delapan jam perjalanan darat. Kami sekeluarga mengendarai mobil ditemani dua orang sopir. Bagasi di belakang full difungsikan sebagai barang-barang bawaan. Saya, suami, dan dua orang anak yang masih kecil-kecil duduk di kabin penumpang.

Kepergian kami ke Takengon ini sebenarnya dalam rangka mengantar suami mengikuti kegiatan sepeda santai PT Pertamina EP. Acaranya sendiri diadakan pada hari Minggu, 2 Maret 2015. Kami berangkat dari Aceh Tamiang pada hari Sabtu, 1 Maret 2015. Sengaja berangkat pagi supaya bisa melihat pemandangan. Perjalanan dengan membawa anak 10 bulan dan kakaknya 3,5 tahun tentu perbekalan yang saya bawa pun cukup heboh. Mengingat juga sang adik yang belum berusia satu tahun, jadi urusan makan masih sedikit repot. Bubur instan tetap jadi andalan ketika perjalanan jauh, walaupun dari rumah juga sudah menyiapkan makanan rumahan juga. Alhamdulillah, anak-anak tergolong mau bekerjasama.

Tim yang akan melakukan kegiatan sepeda santai

Perjalanan kami melewati kota-kota besar seperti Langsa, Lhokseumawe, dan Biereun. Singgah sejenak di Biereun untuk menyantap makan siang. Sate Matang merupakan kuliner terkenal dari Biereun. Why Sate Matang? Dinamakan sate matang karena dijual di daerah Matang, Bireuen, Aceh (suami saya tadinya mengiranya ada sate matang/setengah matang/mentah, wkwk). Sate matang ini rasanya manis dan gurih, sangat lembut, dan tidak begitu alot. Sebelum dibakar sudah dimasak dengan bermacam-macam bumbu dan santan lalu dihidangkan bersama kuah soto dan sambal kacang. Warung sate matang berjejer di sepanjang jalan selama 24 jam. Biereun sendiri merupakan kabupaten pemekaran dari Aceh Utara sejak 2002. Sempat menjadi basis gerakan aceh merdeka dulu. Makan siang di sini, saya habis 2 porsi sate matang (maklum lagi menyusui hehe #alesan). Satu porsi seharga 30.000 berisi 10 tusuk. Makanan khas lain dari kota ini emping melinjo dan keripik pisang.

Penampakan sate matang khas Bieureun

Selepas makan siang, perjalanan dilanjutkan menuju Takengon, Aceh Tengah. Oh ya, Takengon sendiri berarti tikungan, dan memang untuk menuju Takengon jalannya berkelok-kelok seperti tikungan. Kalau saya lihat dari google map, dari Biereun belok ke kiri sekitar 2,5 jam untuk sampai ke Takengon. Biereun berbatasan dengan kabupaten Bener Meriah. Ada suatu tempat yang sangat indah di antara Biereun – Takengon ini. Sayangnya ga sempat ambil foto karena anak-anak tidur lelap di mobil. Nama tempat itu adalah Cot Panglima. Jalanan yang kanan kirinya terdapat tebing bergaris indah seperti lukisan alam. Lokasi ini berada di kecamatan Juli, kabupaten Biereun. Keren banget deh pokoknya. Kata pak sopir, cot itu artinya tempat yang tinggi, yang digunakan persinggahan Panglima Divisi X, Kolonel Hussin Yusuf saat mengangkut peralatan Radio Rimba Raya ke wilayah Aceh Tengah tahun 1945. Pada masa konflik Aceh, tempat ini digunakan sebagai tempat pembuangan mayat (info yang ini saya cari sendiri di google).

Cot Panglima, gambar ini saya ambil dari google

Sepanjang perjalanan menuju Aceh Tengah selepas dari Cot Panglima terlihat perkebunan pohon pinang, perkebunan coklat, dan perkebunan kopi. Singkat cerita, sampailah kami di penginapan di Takengon. Dan, WOW!! Halaman belakang penginapan itu adalah Danau Laut Tawar. Waktu itu kami menginap di Hotel Renggali. Hotel itu cukup tua menurut saya, dan besar sekali cocok digunakan untuk acara family gathering. Mayoritas penduduk di Takengon adalah suku bangsa Gayo. Orang suku Gayo menyebutnya Danau Lut Tawar.

Danau Lut Tawar ini dikelilingi oleh perbukitan Gayo yang terkenal dengan kopi organiknya, kopi Gayo. Dataran Tinggi Gayo adalah daerah yang berada di salah satu bagian punggung pegunungan Bukit Barisan yang membentang sepanjang Pulau Sumatera. Secara administratif dataran tinggi Gayo meliputi wilayah Kabupaten Aceh Tengah dan kabupaten Bener Meriah serta kabupaten Gayo Lues. Tiga kota utamanya yaitu Takengon, Blang Kejeren dan Simpang Tiga Redelong (saya dapat info ini dari orang lokal). Rencananya hari Minggu keesokan harinya, para rombongan gowes akan bergowes bersama mengelilingi indahnya Danau Lut Tawar. Tuh, saya lampirkan beberapa foto kegiatan sepeda santai bersama mengelilingi Danau Lut Tawar.

Danau Lut Tawar dan halaman belakang penginapan

Si kakak berpose dengan latar belakang danau

Teman gowes ayah

Ayah berpose dengan temannya (mas Achmad) di tepi danau

Hamparan tanaman padi di Takengon yang menghijau

Danau Lut Tawar dari sisi lain

Bahagia sekali masa kecil mereka

Anak-anak penduduk lokal

Pintu masuk Goa Putri Pukes, saya ambil juga pic nya dari google karena beberapa dokumentasi entah dimana

Minggu pagi, ketika rombongan sepeda memulai agendanya. Saya dan anak-anak berkeliling sendiri mengitari bumi Takengon, duduk di warung kopi, dan mencari objek wisata yang bisa dikunjungi. Sok hebat banget deh, jalan-jalan super duper repot bawa bayi plus ga pake babysitter. Jangan dibayangin susahnya deh, dijalani saja. Seneng sih, mau gimana lagi. Untung ada pak sopir kesayangan yang siap sedia mengantar dan merangkap menjadi translator bahasa aceh. Thaks so much untuk Om Agus ^_^

Dengan bantuan masyarakat lokal, akhirnya kami menemukan sebuah tempat wisata bernama Gua Putri Pukes. Sempat masuk ke dalam, foto-foto, dan mencari arti folklore yang tersebar mengenai putri Pukes di kalangan masyarakat Takengon. Yah, klasik sih ceritanya tentang seorang perempuan yang dikutuk oleh ibunya menjadi batu karena menikah dengan lelaki dari seberang yang wataknya buruk. Dari gua Putri Pukes, kami menuju gazebo-gazebo kecil di tepi danau untuk beristirahat. Puas rasanya makan kentang goreng, roti bakar, bubur instan untuk my baby (hihi, kondisi bepergian gpp deh pakai instan) sambil lihat air danau yang tenang dan sebuah sampan nelayan yang mencari ikan. Sulungku naik sampan dan ketagihan sampai sekarang Good!!

Pukul 1 siang balik ke penginapan lagi. Sebelumnya mampir ke Warung Kopi Horas di kota Takengon. Menikmati kopi Gayo yang ternyata sama produsennya dibuat berbagai macam varian, ada kopi ampera, luwak, pean, dll (lupa nama2nya hahaha) dan ikut lihat kopi itu digiling di mesin kopi sambil dengerin mas nya cerita (lupa juga cerita apa, haha, maklum pelupa dan bahasa agak roaming). Tidak lama di tempat ini, lanjut sampai di penginapan istirahat, mandiin anak, nyuapin anak lagi, packing. Semuanya dikerjakan dengan segera, cak cek dibantu sama si sulung dan si adik (lebih tepatnya dibantu ngisruhin hohoo) karena pukul 5 sore check out dari penginapan. Pukul 4 sore rombongan gowes sampai ke penginapan. Hosh hosh! Cuapeknyaaa! Oya, di Takengon ini merupakan daerah dengan syariat Islam yang kental, dan saya sempat ditegur sekali di sebuah rumah makan karena suatu kasus, wkwkwk ^_^

Nama salah satu warung kopi di Takengon

Pukul 5 sore tepat berangkat dari Takengon menuju ke Aceh Tamiang. Perjalanan malam kali ini. Berharap bisa singgah sejenak di kawasan Cot Panglima. Dan yes!! Dari kawasan Cot Panglima, bisa melihat kerlap kerlip kota Biereun yang indah. Ohhh, Aceh, I Love It. Singkat cerita aja deh, karena perjalanan malam dan anak-anak pun tidur. Alhamdulillah piknik singkat, anak-anak sehat, dan tanpa tantrum, hihi, makanpun ga terlewat. Di sepanjang perjalanan, mata saya tetap awas melihat kanan kiri jalan sambil ngehapalin nama kota yang dilewati (kelebihan kerjaan banget). Ada Biereun, Lhokseumawe, Panton Labu, Peureulak, Idi, dll. Kami mampir sebentar di warung kopi karena pak sopir ngantuk. Waktu itu mampir di daerah Panton Labu. Saya hanya nunggu di mobil. Pertama anak-anak tidur, kedua ga ada perempuan yang malam2 nongkrong di warkop. Ya sudahlaaah.

Singkat cerita, perjalanan dilanjutkan kembali. Huft, lagi nyenyak tidur ada razia di Langsa. Semua bagasi dibuka, digeledah. Paling malas dan bikin deg-degaan kalau ada razia dini hari begini. Untung polisinya cakep, wangi pulak (salah focus deh). Selepas razia, lanjut ke Aceh Tamiang lewat daerah Upah. Wew jalan bergelombang kanan kiri kelapa sawit dan penerangan hanya dari lampu mobil. Jam 1 pagi hari sampai rumah, Alhamdulillaaaah. Karena anak-anak gak bangun, lanjut beres2 dan esok harinya jam 9 pagi kami sudah piknik lagi sampai Kuala Langsa, daerah kampong nelayan tepi Selat Malaka!! Pada bagian lain, saya juga akan bercerita tentang Kuala Langsa.

Teman-teman, cerita di atas ditulis oleh ibu rumah tangga, jadi harap maklum jika bahasanya tidak bagus. Hanya sekedar berbagi pengalaman sederhana saja. Oya kemarin sempat juga cari di mesin pencari google ternyata sudah ada beberapa travel tour wisata Takengon ini. Dan menurut saya juga recommended sekali untuk menghilangkan penat hiruk pikuk kota dengan melihat-lihat keindahan alam di sini. Danau Lut Tawar, merupakan sebuah perwujudan nyata dari lukisan-lukisan pemandangan alam yang selama ini bisa kita lihat di atas kanvas. Selain itu juga ada beberapa toko souvenir khas Gayo, dan warung kopi- warung kopi Gayo, salah satu kopi terbaik di dunia ini. Berhubung jalan untuk menuju tempat ini agak curam dan meliuk-liuk, so siap-siap minyak kayu putih atau sejenisnya deh supaya tidak mual. Siapkan juga baju hangat karena tempat ini berada di dataran tinggi. Oh iya info satu lagi nih, coba kalau berkunjung ke Takengon ini pada bulan Februari dan September, kita bisa menyaksikan pacuan kuda tradisional Gayo. Dalam setahun diadakan selama dua kali untuk memperingati HUT Takengon dan HUT Kemerdekaan Indonesia. Pasti akan lebih berkesan

Saatnya refreshing teman-teman ^_^ Jangan Lupa Bahagiaaaa…..

Saya dan anak-anak di tepi danau

Replies: 0 / Share:

You might also like …

Post Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *