Berawe, Pantai yang Tersembunyi

Berawe, Pantai yang Tersembunyi

Tuhan pernah memberikan kesempatan baik kepada saya pada tahun 2010 hingga tahun 2015.  Kesempatan itu adalah kesempatan merantau, berinteraksi dengan banyak masyarakat dari berbagai macam latar belakang suku bangsa, agama, maupun wilayah.  Pada tahun tersebut saya mengikuti suami dinas di kecamatan Rantau, kabupaten Aceh Tamiang, Nanggroe Aceh Darussalam,  propinsi istimewa dengan syariat Islam yang kuat.

Salah satu sudut kota Kuala Simpang (sumber : joe-strada.blogspot.co.id)

Aceh Tamiang sendiri adalah pintu gerbang Aceh atau berbatasan langsung dengan kabupaten Langkat, propinsi Sumatera Utara.  Letak geografis ini juga mempengaruhi keberagamaan masyarakat Aceh Tamiang.  Selain keberagaman masyarakatnya, keadaan alamnya pun sangat menarik untuk dieksplore.  Terdapat banyak sekali perkebunan kelapa sawit, hutan-hutan, ataupun ladang-ladang, muara laut, dan pesisir Malaka. Demografi warga Aceh Tamiang terdiri dari penduduk asli, perantauan dari Sumatera Utara, dan juga perantauan dari luar pulau Sumatera.  Terlebih di kawasan tersebut berdiri kompleks Pertamina yang banyak dihuni oleh pekerja dari berbagai wilayah di Nusantara ini.  Itulah sebabnya, saya menyebut bahwa kesempatan merantau adalah kesempatan yang begitu indah diberikan kepada saya.  Banyak pembelajaran yang saya dapat.  Di mana langit dijunjung, di situlah bumi dipijak.

Ramai-ramai ke pantai Berawey

Pada suatu Minggu di bulan Oktober 2015, saya berjalan-jalan ke sebuah pantai yang secara geografis terletak di kabupaten Sumatera Utara.  Namun, perjalanan ke pantai tersebut dapat ditempuh melalui “jalan pintas” dari belakang rumah.  Oh, ya, waktu itu saya tinggal di kompleks Pertamina Rantau, Aceh Tamiang.  Pantai Berawe sendiri berada di Pulau Kampai.  Pulau seluas tujuh ratus hektar berada di kecamatan Pangkalan Susu, kabupaten Langkat.  Untuk mencapai pulau tersebut dari rumah kami diperlukan waktu kurang lebih dua sampai tiga jam.  Siapkan bekal dari rumah karena perjalanan ini melewati hutan-perkebunan dan jangan harap ada indomaret dan sejenisnya.

Santai sejenak sebelum menyeberang pulau

Biasanya untuk menuju ke Pulau Kampai, orang-orang melewati Pangkalan Susu. Kemudian menyeberang memakai boat sekitar 40 menit. Medan-Pangkalan Susu kuranglebih 2-3jam an. Di perjalanan di atas boat, kita bisa melihat ikan kedra (sejenis ikan cucut). Akan tetapi berhubung rumah saya ada di Aceh Tamiang- maka kemarin perjalanan menuju ke Pulau Kampai ditempuh lewat kecamatan Rantau, Aceh Tamiang. Lewat belakang kompleks Pertamina rantau,lapangan golf, desa sukaramai dan tinggal mengikuti jalur. Pemandangan kanan kiri hutan kelapa sawit. Sesekali bertemu dengan perkampungan dan masyarakat setempat. Jalan yang dilalui bergelombang/sangat tdk disarankan dengan mobil pendek/kecil, disarankan minimal MPV atau SUV, pake double cabin pun oke juga. Sebagian besar jalan belum diaspal, dan sangat minim penerangan jalan (gimana ya kalau malam). Beruntung saya melakukan perjalanan itu di pagi hari, dan kami juga sempat berhenti sejenak di rumah penduduk sekedar melepas penat.

Jalanan mulai menyempit, kanan kiri pohon mangrove, dan roda mobil menyentuh air laut

Menuju pulau Kampai

Sekitar dua jam, jalan mulai menyempit kanan kiri berganti dengan rimbunan pohon mangrove, dan air laut. Saat itu airnya lumayan tinggi, jadi roda mobil sudah menyentuh air. Kami akan menyeberang ke pulau Kampai dengan menggunakan gethek (bahasa lokal).  Dalam bayangan saya, gethek (dalam pengertian bahasa Jawa) itu bambu-bambu yang disusun kemudian dikayuh manusia. Ternyata gethek di sini merupakan papan kayu besar dan dilendalikan dengan mesin plus setir lawas dari kayu. Beda dengan penyeberangan lewat pangkalan susu yang menggunakan boat. Anak sulung sangat antusias, sepertinya dia tipe petualang. Duduk dengan santai di samping pak nahkoda gethek.

Menyeberang menggunakan gethek

Ruang kendali kemudi, terlihat samar anak saya duduk di dalam bersama nahkoda gethek, hehe

Bersama penduduk menyeberang pulau Kampai

Menuruni gethek

Pemandangan lain yang menyita perhatian saya adalah ketika ada beberapa ibu-ibu tangguh menyeberang membawa karung-karung padi, sepertinya untuk dijual. Salut dengan perempuan seperti itu. Penggerak ekonomi keluarga ^_^ Di pulau Kampai ini juga ada masyarakat petani, dilihat dari banyaknya sawah. Masyarakat yang tinggal di sini terdiri dari etnis Jawa, Aceh, Melayu, perantau dari Malaysia dan Karo. Pulau Kampai dikenal sebagai pulau yang menghasilkan terasi. Pembuatan terasi ini sudah dilakukan pada jaman Belanda.

Pulau Kampai juga terkenal akan kuburan keramat panjang, kuburan Mas Merah dengan legendanya dan Pantai Pasir Putih. Kuburannya panjangnya 6 meter dan 4 meter (info dari masyarakat lokal). Namun, sayangnya saya tidak bermain ke tempat itu karena tujuan utamanya memang ingin ke pantai. Jika kita pergi ke pulau Kampai dan masuk lewat Pangkalan susu akan disambut dengan gerbang selamat datang. Tapi, saya kemarin lewat jalan pintas jadi tidak ada sambutan apa-apa hehehe, sambutannya hanya jalan bergelombang, sawah-sawah dengan jenis padi gogo (sepertinya looohh, tidak sempat bertanya). Walaupun begitu ini merupakan pengalaman yang tidak terlupakan.  Lebih dari separo perjalanan melewati hutan.

Pantai Berawe di Kabupaten Langkat

Singkat cerita setelah kami menyeberang menggunakan gethek, sampailah ke pantai Berawe. Pantainya bagus dan tidak curam. Airnya agak coklat, sepengetahuan saya pantai-pantai di pesisir Selat Malaka memang lebih coklat airnya dibanding pantai-pantai di Jawa.  Ombaknya sangat landai, dan rindang banyak pepohonan.  Saya berkunjung ke Pantai Berawe sudah sangat lama sekitar dua tahun yang lalu, tentu saja sekarang pasti lebih bagus keberadaan pantai itu. Semoga pemerintah daerah lebih memperhatikan potensi-potensi wisata agar bisa mendongkrak taraf hidup masyarakat di sekitar.

Berikut beberapa foto di sekitar Pantai Berawe.

Duduk-duduk di tepi pantai Berawey

Si kakak

Pantai Berawe ^_^

Si Ayah ikutan mainan air

Saatnya refreshing teman-teman ^_^ Jangan Lupa Bahagiaaaa…..

Replies: 0 / Share:

You might also like …

Post Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *