Pagoda di Tanah Karo

Pagoda di Tanah Karo

Selamat malam teman-teman. Sudah lama sekali saya tidak menulis dan mengupdate blog ala ala saya ini. Jadi mohon dimaklumi jika tulisan-tulisannya berasa kaku. Karena menulis itu butuh keterampilan juga sih. Nah, kenapa saya bisa vakum lama sekali tidak mengupdate blog? Salah satu alasannya adalah kelahiran anak ketiga saya dan status saya yang sekarang sudah berubah menjadi mom of three.  Dan mulai saat ini mau konsisten berlatih menulis lagi. Doakan yaaa…. Tulisan juga jauh-jauh dari kegiatan piknik bersama keluarga, dan kali ini saya akan bercerita tentang kunjungan saya dan keluarga ke Taman Lumbini, beberapa tahun yang lalu (throwback).

Beberapa tahun lalu saya pernah berjalan-jalan ke Tanah Karo, tepatnya di daerah Berastagi dan tanpa sengaja menemukan pagoda indah ini.  Sebenarnya pagoda ini sudah cukup terkenal dan sudah banyak review nya di internet.  Namun, tidak bagi saya.  Saya baru mendengar soal pagoda ini saat itu juga.  Bahkan sempat kaget kenapa ada bangunan suci pagoda di tengah masyarakat Batak Karo? Oh ya kawasan pagoda ini terkenal dengan nama taman Alam Lumbini, terletak di kaki gunung Sibayak, udaranya sejuk dan dingin.  Di negara asalnya, Lumbini merupakan nama tempat kaki Gunung Himalaya ( berada di wilayah Nepal ), tempat di mana Sidharta Gautama dilahirkan dan kelak menjadi Budha.  Pagoda ini ternyata lebih mirip dengan Pagoda Swhedagon yang ada di Myanmar  (ada yg menyebutnya replika). Papan pengumuman di luar menyebutkan kalo Pagoda ini digunakan juga untuk meditasi. Saya sendiri kurang begitu mengerti perbedaan antara klenteng, vihara, dan pagoda.  Perbedan kecil yang saya mengerti hanya bentuknya aja yang berbeda. Sependek pengetahuan saya, klenteng lebih kecil lingkupnya dan untuk sembahyang pada para Dewi, seperti Dewi Kwan Im, Dewa Hok Tek Ching Sin. Kalo Vihara lebih besar, kurang mengerti juga karena dalam agama Budha pun banyak sekte (theravada, mahayana, dll (correct me if i wrong yaa)).

Foto latar depan Pagoda di Taman Lumbini

Tempat ini terbuka untuk umum dengan membayar retribusi sebesar 10 ribu rupiah kala itu (tahun 2014).  Akan tetapi perlu diingat, bahwa tempat ini juga merupakan tempat ibadat maka kita harus berhati-hati dalam membawa diri.  Jika membawa anak, ingatkan untuk bersikap baik dan tidak ramai bercanda kesana kemari. Kunjungan ke pagoda ini sebenarnya tidak terlalu direncana juga.  Karena letaknya yang berada di tanah Karo dan dekat dengan wisata Berastagi, jadi sekalian mampir saja. Catatan tentang perjalanan ke Berastagi tepatnya ke Mikie Holiday Resort dan kebun Strawberry Berastagi akan saya tuangkan pada judul yang berbeda.

Satu hal yang membuat saya penasaran adalah keberadaan pagooda ini sendiri di Tanah Karo.  Tanah Karo identik dengan suku bangsa Batak yang menganut agama nenek moyang yakni parmalim, percaya kepada Mulajadi Na Bolon, dekat dengan konsep Dalihan Na Tolu, dan mayoritas beragama Kristen.  Walaupun etnis Batak sendiri dapat diklasifikasikan dalam berbagai sub etnis, seperti Batak Karo, Batak Toba, Angkola, atau Mandailing.  Setidaknya itulah beberapa konsep yang saya melekat pada suku bangsa Batak ketika saya dulu mengikuti pelajaran etnografi Batak saat kuliah.

Kabupaten Karo tempat pagoda Lumbini ini terletak di dataran tinggi Tanah Karo. Dua kota yang terkenal adalah Berastagi dan Kabanjahe. ayoritas suku Karo tinggal di daerah pegunungan, yaitu di daerah Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak yang disebut sebagai atau “Taneh Karo Simalem“.  Berkenaan dengan rasa penasaran saya tentang keberadaan Pagoda ini di tanah Karo, saya cari referensi sendiri lewat google;) Entah bagaimana saat itu, saya tidak dapat bertanya kepada penjaga pagoda atau karena sibuk mengawasi anak- anak.  Orang yang memiliki peran utama dalam penyebaran agama Budha di Tanah Karo adalah Bhante Jinadhammo. Upaya ini telah mulai dirintis oleh Bhikkhu Jinadhammo sejak tahun 1984. Dan, saat ini, jumlah orang Karo yang memeluk Agama Buddha semakin meningkat.

Beberapa nama-nama tokoh Buddhis yang berasal dari Karo, di antaranya : Bhikkhu Kanthadhammo, Channa Surbakti, Ndriken Sitepu, Gancih Sitepu (alm), Densi Ginting, Nenteng Barus, dan banyak lagi ( informasi dari https://etnisdunia.blogspot.com/2017/05/suku-batak-karo.html)

Tempat berdoa
Untaian kertas doa
Patung Sang Buddha
Kiddos masih dua, sekarang yang nomer 3 udah lebih gede dari yang digendong itu

Replies: 0 / Share:

You might also like …

Post Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *