Minggu di Bukit Menoreh

Minggu di Bukit Menoreh

Jika SH. Mintardja mempunyai karya yang terkenalnya yakni Api di Bukit Menoreh, saya juga mempunyai kisah Minggu di Bukit Menoreh.  Keduanya tidak memiliki hubungan apapun sih, kecuali kemiripan judulnya aja. Wkwkwk. Kenapa Minggu di Bukit Menoreh? Ya, sekira sebulan yang lalu, saya dan anak-anak menghabiskan akhir pekan di Bukit Menoreh.  Kawasan Bukit menoreh ini sendiri berada di tiga wilayah, yakni kabupaten Kulon Progo DIY (sebelah barat), kabupaten Purworejo (sebelah timur), dan sebagian berada di kabupaten Magelang.  Puncak tertingginya adalah Gunung Ayamayam (1.022 meter).  Salah satu yang terkenal di lereng Menoreh ini adalah kebun teh nya.  Hamparan kebun teh tersebut dimiliki perorangan dan ada juga milik PT. 

Berjelajah bersama pituwolusongo

Ada dua kebun teh yang terkenal, yakni kebun teh Nglinggo dan kebun teh Tritis.  Kami mengunjungi kebun teh Nglinggo.  Pemandangan dan udaranya sangat sejuk. Ada spot instagramable yang dikenal dengan bukit Ngisis. Lebih afdhol jika bisa mendapatkan panorama saat sunrise atau matahari terbit.  Dari bukit Ngisis ini bisa melihat gunung Merbabu, Sumbing, Sindoro, Telomoyo, dan Posong dengan sangat jelas.  Momen ini kami lewatkan karena anak-anak belum bisa dikondisikan siap sedia selepas Subuh untuk naik bukit.  Selain hawanya dingin, perut anak-anak gampang lapar, daripada terjadi drama yang berkepanjangan- akhirnya kami skip deh rencana ini.  Sampai dengan pukul 7 pagi kami masih berada di homestay Rimbono. Homestaynya terbuat dari bilik-bilik kayu gitu berbentuk panggung dan beratapkan ijuk.  Ijuk dapat meredam hawa dingin. FYI, pukul 2 dini hari dingiiiiin sekali di sini.  Makan malam disediakan di homestay dengan menu sayur ndeso dan ayam rica-rica. Hangat- hangat sedap disantap saat hawa dingin.  Homestay ini juga menyediakan mobil untuk mengantar tamu nya berkeliling desa wisata Nglinggo.

Homestay Rimbono
Makan malam ala Ndeso
Kebun Teh Nglinggo

Pukul 7 pagi hari, kami naik ke kebun teh.  Tempat parkir mobil agak di bawah, jadi kami perlu jalan agak menanjak. Hitung-hitung bakar kalori dan olahraga.  Belum lagi kalau semua kebun teh dan semua bukit kami lewati. Ya dibayangkan yang asyik-asyik saja, sesekali anak merengek capek, bahkan ibu nya juga kewalahan karena harus gendong bayi, dsb.  Wajar. Maklum bukan Nia Ramadhani seeh… Sampai atas lumayan terbayarkan sih, duduk nongkrong sambil menyantap pop mie dan wedang jahe.  Setelah perut lumayan terisi karena perjalanan yang menanjak, foto-foto deh kami.  Weekend cuma seputar Jogjakarta tapi sungguh terniaaaat karena bawa fotografer. Awalnya cuma mau mengupdate foto keluarga saja yang versi outdoor.  Jadi, maafkan kalau agak spam banyak foto-foto keluarga terpampang. Hehe

No Caption 🙂

Kembali lagi ke desa wisata Nglinggo. Jadi sebenarnya kebun teh ini sudah ada sejak lima belas tahun yang lalu.  Dan sekarang dikembangkan menjadi desa wisata.  Selain panorama keindahan kebun teh, ada juga wisata instagramable lain yang dikenal dengan Gampling Deloano. Glamour Camping.  Untuk menuju ke tempat ini, kami juga harus jalan kurang lebih 30 menit.  Sekali lagi bayangkan asyik-asyiknya saja, melihat kanan kiri pemandangan dan udara yang sejuk.  Gampling Deloano juga pernah dikunjungi menteri.  Jadi konsepnya, kita bermalam di tenda tapi dengan fasilitas yang bagus, makanya disebut Glamour Camping.  Sila deh cari di instagram dengan hastag #glamping pasti terkesan dengan foto-fotonya yang instagramable.

Anak-anak di kebun teh

Sepulang dari jalan-jalan singkat di kawasan Nglinggo ini kami membawa pulang oleh-oleh khas Nglinggo (lebih tepatnya beli). Teh Sangrai namanya, rasanya khas warnanya bening gitu. Dan satu lagi, kopi khas Nglinggo.  Fotonya aku sertain di bawah.  Dari sekian review di atas, aku saranin kalau pergi ke daerah Nglinggo untuk selalu bawa jaket/ sweater.  Malam hari udaranya sangat menusuk tulang.  Menjelang jam 9 pagi sudah mulai panas, yang tidak tahan gerah seperti anak keduaku bolehlah pakai kaos.  Usahakan datang ke daerah ini sebelum sore, menjelang malam jalannya gelap sekali lo, kanan kiri jurang, dan sangat minim penerangan.  Jarak yang lumayan jauh dari pusat kota, kami selalu membawa bekal jajanan- maklum peserta jalan-jalan didominasi oleh anak-anak.  Banyak yang bisa dieksplore di daerah Kulon Progo ini loh. Banyak tempat-tempat wisata di sekitar sini, misalnya Kalibiru, Pule Payung, kawah Kedhung pedhut, dll.  Pendapatan dari sektor pariwisata juga mulai menggeliat. Dulu, waktu kuliah pernah bikin artikel tentang Ecotourisme, dan rasanya dejavu deh. Pokoknya maju terus Pariwisata Indonesia.

Sampai ketemu lagi di perjalanan berikutnya ^_^
Replies: 0 / Share:

You might also like …

Post Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *